ATLIT, NASIONALISME DAN UANG


Sudah 65 tahun kita merdeka. Tetapi bangsa kita terus berkutat pada masalah yang sama, miskin dan terbelakang dalam kemajuan bangsa lain. Padahal negeri kita adalah negeri terkaya didunia. Dari hasil alam berupa bahan tambang dari minyak, timah, gas bumi hingga emas. Di sektor pertanian kita juga dianugrahi tanah yang subur sehingga tidak heran kita disebut dengan negeri Zamrud Kathulistiwa. Setiap orang pasti akan berbeda pandangan dalam menemukan jawaban dalam menyelesaikan masalah bangsa ini, dan sebagai bagian dari anak bangsa yang mencoba menanamkan sahamnya, penulis menulis risalah ini mudah-mudahan bisa mengugah semangat kita semua di perayan 17 agustus tahun ini.

Ada suatu masalah yang sangat penting dan merisaukan penulis, yaitu masalah nasionalisme kita. Bangsa Indonesia boleh bangga jika ada atelet kita meraih emas di olimpiade. Ketika atlet Bulutangkis kita bertanding di final olimpiade suasana jalanan sepi. Rakyat hingga presiden menonton TV bersorak-sorak dan berdoa demi kemenangan atlet bulutangkis kita. Begitupula ketika ada Negara lain mencoba mengklaim wilayah Indonesia. Orang-orang ramai turun kejalan menghujat negara tersebut hingga membakar benderanya.

Namun ternyata sebuah ironi terjadi, mengapa nasionalisme dibidang olahraga ataupun nasionalime state versus state tidak menjalar ke ranah yang juga penting bahkan hakikatnya yaitu nasionalisme ekonomi, nasionalisme politik, pendidikan dan lain sebagainya?

Amin Rais (2008) misalnya mengibaratkan nasionalisme sebagai sebuah rumah. olahraga adalah nasionalisme pagar depan karena dia kasat mata dan simbolik. Namun bangsa dan pemerintah kita punya tingkah aneh yang hanya memikirkan pada pagar tersebut agar kelihatan indah, bersih, dan terjaga. Dan ketika pagar dikotori oleh pengklaiman Blok Ambalat, ataun seni budaya reog, batik dan sebagainya oleh Malaysia, pemerintah dan bangsa kita marah. Namun anehnya ketika kekayaan didalam rumah diambil orang, bangsa kita tenang-tenang saja. Bahkan memasang karpet merah bagi sang pencuri.

Dan jawabannya ternyata nasionalisme kita hanya pada nasionalisme simbolik. Sehingga ketika bangsa kita berhadapan dengan perusahan-perusahan atau korperasi tran-nasional atau multi-nasional yang hendak mengambil isi rumah kita, tidak ada yang peduli. Ketika sektor vital ekonomi kita seperti perbankan, komunikasi dan lain sebagainya dikuasai korperasi asing kita diam membisu. Pagar (baca: nasionalisme simbolik) yang tadinya berfungsi menjaga harta di rumah kita dari kemalingan ternyata tidak berfungsi dan tidak mampu mencegah hilangnya harta kekayaan dalam rumah kita.

Berbicara pretasi dari Olahraga Indonesiapun sebenarnya sudah mulai tidak bisa dibanggakan sebab kita sepertinya sudah kehabisan “amunisi”dan tidak lagi ada power untuk bisa berbicara lebih banyak lagi dengan para atlet mancanegara.Terakhir masih hangat memori kita bagaimana di tingkat Asia Tenggarapun Indonesia sudah tidak bisa lagi mengejar Thailand maupun Singapura dan bahkan sudah mulai tergeser dengan Vietnam dan Malaysia.Sea Games yang lalu bicara tentang suatu fakta bagaimana hancur leburnya kita dan yang paling menyedihkan adalah justru pemerintah dalam hal ini kementrian pemuda dan olahraga bersama koni pusat dengan induk-induk organisasi lainnya malah menyalahkan atlet yang tidak sanggup mempersembahkan medali emas bagi Indonseia dengan dalih begitu banyak alasan.

Maaf, tanpa penulis bermaksud mengecilkan andil dan peranan pemerintah tapi kalau boleh memberikan sedikit saja saran dan sambil berharap ada solusinya serta diterima dengan jiwa besar dari pemerintah beserta koni pusat maka sebenarnya kegagalan atlet adalah kegagalan pemerintah yang kurang beres dalam memaintain para atlet kita yang sudah berpeluh keringat siang dan malam menjalani latihan kerasnya dan bertanding habis-habisan tanpa mempedulikan lagi hari esok hanya untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan para atlet dari negara-negara raksasa dunia semacam Amerika,Jepang,China,Korea,Rusia,dan negara pecahan Uni Soviet lainnya.

Mengapa demikian?coba kita teliti kembali mungkinkah Indonesia dapat mensejajarkan dirinya dari tingkat perekonomian,pendidikan,kesehatan,teknologi atau apapun namanya dengan negara-negara besar tersebut selain dari atlet-atlet Indonesia sajalah sebenarnya kita masih bisa berbangga hati karena setiap kali dalam momen pengalungan medali bisa kita saksikan bagaimana para pahlawan bangsa kita berdiri sejajar atau bahkan berdiri lebih tinggi dari pesaing-pesaingnya yang berasal dari negara besar karena berhasil merebut medali emas.

Ya betul sekali pahlawan bangsa, sepertinya itulah nama yang paling tepat untuk kita ilustrasikan sosok atlet Indonesia saat ini.Sepertinya tidak jauh bedanya dengan para pahlawan nasional Indonesia yang sudah gugur di medan perang karena memang atlet-atlet Indonesia saja yang bisa memberikan kebanggaan dan kehormatan bangsa kita kembali menjadi bangsa yang tidak dipandang sebelah mata oleh dunia internasional.Dan rasanya memang tidak terlalu berlebihan jika disinilah peranan pemerintah untuk lebih serius lagi memelihara dan meningkatkan kesejahteraan para atlet Indonesia.Baik bagi mereka yang sudah berprestasi internasional maupun yang masih berskala nasional atau baik mereka berstatus sebagai alter senior maupun yang yunior.Dalam hal ini penting sekali harus adanya kesinambungan yang sinergis dalam pemberian bonus dan penghargaan berupa materi maun non materi yang tujuannya adalah mensejahterakan atlet-atlet Indonesia dan memberikan mereka bekal untuk menghidupi masa depan mereka bersama suami/isteri/anak-anak.

Tanpa bermaksud untuk memanjakan atlet atau menumbuhkan mental matrealistis pada setiap atlet Indonesia tetapi lebih kepada menanamkan dan manambahkan jiwa nasionalisme mereka bahwa merekapun harus bangga bertanding sebagai atlet yang membela nama Indonesia.Apalagi mereka pasti akan memeliki “roh yang baru”untuk bersiap 1000% dengan tetap menjaga sportifitas sebagai anak bangsa merebut medali emas di setiap laga dan pertandingan internasional yang mereka lakoni.

Sangat menarik kita simak dan nantikan bersama apakah pemerintah dalam hal ini bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat yang berkompeten dalam hal ini akan sungguh-sungguh minimal ada dalam pikiran mereka tanpa berusaha untuk mencari kenikmatan sendiri-sendiri.Pemerintah seringkali mengumumkan adanya anggaran khusus untuk olahraga yang sudah disusun kebijakannya yang ditertibkan dalam rancangan UUD tentang pemuda dan olahraga Indonesia.Lalu untuk apakah dana-dana tersebut sementara untuk kesejahteraan atlet saja sepertinya pemerintah seakan-akan “lepas tangan” dan memperlihatkan sikap tidak mau tahunya.

Bukankah banyak yang bisa dilakukan pemerintah misalnya dengan menggandeng para pengusaha Indonesia dan perusahaan-perusahaan terkemuka di negara ini untuk dijadikan sebagai sponsor dalam peningkatan prestasi Indonesia sekaligus menggali leih dalam lagi untuk pencairan bonus sebagai bukti kasih sayang pemerintah terhadap putera-puteri bangsa yang sudah mengabdikan dirinya dan membuang jauh-jauh harga dirinya demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Atlet Indonesia sudah berlatih,berkorban,berprestasi dan pada akhirnya yang membuat hati ini miris adalah manakala mereka berkata bahwa profesi sebagai atlet Indonesia sama sekali tidak bisa dijadikan pegangan untuk masa depan sehingga jangan heran jika banyak diantara mereka justru pada akhirnya harus “terjebak” dengan suatu pernyataan akhir bahwa menjadi atlet itu adalah bukti pengabdian mereka terhadap tanah air mereka.Suatu pengabdian kepada negara yang dimana pemerintah di negara yang mereka perjuangkan siang dan malam sama sekali tidak mau mengabdikan diri mereka untuk juga memperjuangkan harkat,martabat,dan derajat anak-anak bangsa yang sudah berbuat banyak hal dibandingkan berdebat di rapat-rapat seperti yang sudah seringkali kita lihat diberbagai macam media maupun menonton langsung.

Perintah Indonesia harus berjiwa besar dan berlapang dada jika menyaksikan justru semakin banyak atlet-atlet kita yang malahan mengais rupiah demi rupiah dengan “terbang” ke negara asing hanya karena mereka merasa lebih diperhatikan dan deberikan “lebih” pada pemerintah maupun induk organisasi negara tersebut sebagai apresiasi besar terhadap atlet-atlet kita.Jika memang demikian kemauan pemerintah Indonesia maka jangan terlalu muluk-muluk untuk tetap bisa berangan-angan dapat medali emas lagi di olimpiade 2012,London nanti.Tidak bisa tidak atlet hidupnya tidak bisa memilih sebab selama hidupnya mereka hanya ada dalam satu pilihan yaitu bertanding dan berprestasi.Dan selebihnya lebih kepada sikap hati yang berserah dan menunggu reaksi pemerintah untuk berbuat sesuatu sebagai timbal balik yang sepadan.

Hal ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan tetapi justru akan menjadi lebih sulit lagi jika sesunguhnya pemerintah tahu persis apa yang harus dilakukan tetapi malah menjadi cuek dan no action hanya sekedar memberikan kata-kata pujian yang tidak bisa dinikmati para atlet untuk menunjang masa depan mereka.Andai saja pemerintah punya sedikit saja hati maka tidak akan pernah terjadi yang namanya atlet terbengkalai terlebih juga kepada atlet-atlet yang sudah berprestasi dunia yang sudah pensiun dari dunia yang sudah membesarkan negara ini dengan buah-buah dari keringat dan doanya.

Menegpora,Koni,serta seluruh Induk Organisai seluruh cabang olahraga di negeri ini harus bisa duduk bersama dan mulai menggoreskan tinta dalam memberikan program khusus bagi penghargaan dan atlet-atlet Indonesia.Kita sendiri yang akan bangga dan rasanya jiwa ini mengharubiru setiap kali memandang sahabat-sahabat kita mengangkat tangan mereka dengan berkalungkan emas di leher mereka di setiap kali multi event yang mereka ikuti.Cukup sudah pemerintah memberikan kata-kata manis ini dan itu sekarang sudah bukan era-nya lagi dengan hanya berucap.Atlet Indonesia juga manusia biasa dan mereka juga punya hak untuk memiliki masa depan yang gemilang sama seperti manusia-manusia lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: